Latest Posts

Rabu, 09 Juli 2014

Santri PP. langgar tarbiyah
Pondok Pesantren Langgar Tarbiyah merupakan pondok pesantren yang didirikan oleh K.A.Sidarmin Tetap, M.Pd. beliau adalah putrah asli Padang Guci yang memiliki jiwa dakwa yang mengakar kuat sejak beliau mengenal Agama Allah (ISLAM). Tidak lupa para sahabat beliau yang juga ikut membesarkan Pondok ini yaitu Ustad Arfan Yasin, S.Pd.I Putra Bima NTB, Ustad Yuli Sasman, S.Pd.I Mubalig kondang putrah padang guci, Tedi Riston, S.Pd.I Putra Alas Maras, Rinsidi, Diki Aprianto, dan masih banyak sahabat sahabat yang lain.
Pesantren Langgar Tarbiyah Berlamatkan di Desa Tanjung Betung II Kecamatan Kaur Utara Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu melaksanakan program pendidikan di bidang keagamaan ULA PP Langgar Tarbiyah, Wustha, dan Ulya, di bidang umum ada PAUD PP Langgar Tarbiyah, SD Asy Syafiiyah, SMP Asy Syafiiyah, SMA Asy Syafiiyah...................Bersambung.

Sekilas Tentang Pondok Pesantren Langgar Tarbiyah

Santri PP. langgar tarbiyah
Pondok Pesantren Langgar Tarbiyah merupakan pondok pesantren yang didirikan oleh K.A.Sidarmin Tetap, M.Pd. beliau adalah putrah asli Padang Guci yang memiliki jiwa dakwa yang mengakar kuat sejak beliau mengenal Agama Allah (ISLAM). Tidak lupa para sahabat beliau yang juga ikut membesarkan Pondok ini yaitu Ustad Arfan Yasin, S.Pd.I Putra Bima NTB, Ustad Yuli Sasman, S.Pd.I Mubalig kondang putrah padang guci, Tedi Riston, S.Pd.I Putra Alas Maras, Rinsidi, Diki Aprianto, dan masih banyak sahabat sahabat yang lain.
Pesantren Langgar Tarbiyah Berlamatkan di Desa Tanjung Betung II Kecamatan Kaur Utara Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu melaksanakan program pendidikan di bidang keagamaan ULA PP Langgar Tarbiyah, Wustha, dan Ulya, di bidang umum ada PAUD PP Langgar Tarbiyah, SD Asy Syafiiyah, SMP Asy Syafiiyah, SMA Asy Syafiiyah...................Bersambung.

Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah meresmikan berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Makrifatul Ilmi di Kabupaten Bengkulu Selatan. Dengan berdirinya sekolah asrama berbasis agama ini diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang berakhlak dan membesarkan nama Islam. Terutama lagi dapat memberikan pendidikan agama lebih dalam, sehingga mencegah kenakalan remaja dan penyimpangan seksual yang kerap terjadi.
 “Pondok pesantren ini sebagai penguat agama. Namun jangan hanya seremonial saja, pendidikan di dalamnya harus mencetak calon-calon Imam, mengajarkan bagaimana melaksanakan salat yang khusuk, membesarkan nama agama dan memebentuk jiwa-jiwa taqwa serta mewujudkan pendidikian berakhlak,” ungkap gubernur.
Peresmian Ponpes Makrifatul Ilmi ini dihadiri oleh Bupati Bengkulu Selatan Reskan Efendi Awaludin, Calon Anggota DPD RI serta pejabat dan undangan lainnya. “Kami sangat menyambut baik pembangunan Ponpes ini. Untuk itu dalam APBD tahun ini dialokasikan Rp 300 juta bantuan untuk pesantren ini,” ungkap Reskan.
Sementara itu Ketua Umum Yayasan Makrifatul Ilmi Drs. Nur Ali dengan berdirinya Ponpes ini menargetkan alumni Makrifatul Ilmi menjadi ulama. Ia menjelaskan sifat kegiatan di Ponpes ini terbuka untuk umum, yakni Ponpes Makrifatul Ilmi membebaskan santinya untuk sekolah diluar baik itu SMP, MTsN, MA, SMK, SLTA.
“Motode pendidikannya mondok di asrama tetapi santri dibebaskan untuk memilih sekolah. Sehingga ponpes ini bukan hanya meningkatkan imtaq tetapi juga iptek sehingga menjadi alumni yang siap menjadi ulama dan santri yang bertaqwa. Hal ini sesuai dengan pemerintah yang menciptakan pendidikan yang berimtaq dan iptek,” jelas Nur Ali.
Untuk diketahui Pondok pesantren Makrifatul Ilmi beralamat di Jl. Merapi RT 007, Kelurahan Gunung Ayu, Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selatan. Ponpes ini didirikan oleh Yayasan Makrifatul Ilmi.

Sumber :  "http://go.bengkuluprov.go.id/ver3/index.php/berita/berita-bengkulu/129-ponpes-wujudkan-pendidikan-berakhlak"

PONPES Wujudkan Pendidikan Berakhlak

Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah meresmikan berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Makrifatul Ilmi di Kabupaten Bengkulu Selatan. Dengan berdirinya sekolah asrama berbasis agama ini diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang berakhlak dan membesarkan nama Islam. Terutama lagi dapat memberikan pendidikan agama lebih dalam, sehingga mencegah kenakalan remaja dan penyimpangan seksual yang kerap terjadi.
 “Pondok pesantren ini sebagai penguat agama. Namun jangan hanya seremonial saja, pendidikan di dalamnya harus mencetak calon-calon Imam, mengajarkan bagaimana melaksanakan salat yang khusuk, membesarkan nama agama dan memebentuk jiwa-jiwa taqwa serta mewujudkan pendidikian berakhlak,” ungkap gubernur.
Peresmian Ponpes Makrifatul Ilmi ini dihadiri oleh Bupati Bengkulu Selatan Reskan Efendi Awaludin, Calon Anggota DPD RI serta pejabat dan undangan lainnya. “Kami sangat menyambut baik pembangunan Ponpes ini. Untuk itu dalam APBD tahun ini dialokasikan Rp 300 juta bantuan untuk pesantren ini,” ungkap Reskan.
Sementara itu Ketua Umum Yayasan Makrifatul Ilmi Drs. Nur Ali dengan berdirinya Ponpes ini menargetkan alumni Makrifatul Ilmi menjadi ulama. Ia menjelaskan sifat kegiatan di Ponpes ini terbuka untuk umum, yakni Ponpes Makrifatul Ilmi membebaskan santinya untuk sekolah diluar baik itu SMP, MTsN, MA, SMK, SLTA.
“Motode pendidikannya mondok di asrama tetapi santri dibebaskan untuk memilih sekolah. Sehingga ponpes ini bukan hanya meningkatkan imtaq tetapi juga iptek sehingga menjadi alumni yang siap menjadi ulama dan santri yang bertaqwa. Hal ini sesuai dengan pemerintah yang menciptakan pendidikan yang berimtaq dan iptek,” jelas Nur Ali.
Untuk diketahui Pondok pesantren Makrifatul Ilmi beralamat di Jl. Merapi RT 007, Kelurahan Gunung Ayu, Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selatan. Ponpes ini didirikan oleh Yayasan Makrifatul Ilmi.

Sumber :  "http://go.bengkuluprov.go.id/ver3/index.php/berita/berita-bengkulu/129-ponpes-wujudkan-pendidikan-berakhlak"

Data pondok Pesantren se provinsi bengkulu dapat di unduh di link berikut ini :

http://bengkulu.kemenag.go.id/file/dokumen/bengkulupontren.pdf

Daftar Pondok Pesantren Di Provinsi Bengkulu

Data pondok Pesantren se provinsi bengkulu dapat di unduh di link berikut ini :

http://bengkulu.kemenag.go.id/file/dokumen/bengkulupontren.pdf


BANDUNG, itb.ac.id - Keputrian Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1435 H Masjid Salman ITB menggelar Jasmine, sebuah talkshow dengan tajuk "Moslema Beauty Inside & Out". Ada tiga topik perbincangan pada hari itu, yaitu Brain, Body, dan Behavior. Talkshow ini digelar di Aula Timur Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (07/05/14). Lebih dari 300 muslimah hadir meramaikan Aula Timur, tidak hanya mahasiswa ITB, hadir pula mahasiswa dari universitas lain di Bandung Raya, siswa SMA, dan masyarakat umum. Ketiga pembicara yang diundang tampak nyata menyedot perhatian publik, yaitu Meyda Sefira, Mentari Mustaqim, dan Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T. Sebagaimana tujuan acara ini, Jasmine menjadi momen majelis ilmu sehingga muslimah dapat belajar menjadi sosok yang cantik luar-dalam.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Athifah Qotrun Nada (Biologi 2013). Setelah dilafazkannya lantuan ayat suci Al-Qur'an, Okti Dinasakti Nurul Mentari (Teknik Lingkungan 2013) tampil di atas panggung guna memberikan kata sambutan selaku Ketua Pelaksana Jasmine. "Kami mengadakan acara ini seiring dengan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah. Semoga acara ini bisa menjadi momen pembelajaran untuk menjadi muslimah yang cantik luar-dalam," tuturnya.

Talkshow berlangsung dengan dimoderatori oleh Suci Utami Nurwidia (Sains dan Teknologi Farmasi 2010). Pembicara pertama adalah Paramita Mentari Kesuma Putri yang lebih dikenal dengan nama Mentari Mustaqim. Beliau adalah mantan presenter program TV Jejak Petualang, aktivis lingkungan, dan penulis buku "Menyingkap Cahaya Mentari". Topik yang ia bahas adalah Behavior. "Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amalan kalian.'", ujarnya sebagai pengantar. Mentari tumbuh besar di keluarga pecinta alam sehingga di dalam dirinya terbentuk pribadi yang kuat dan menyukai tantangan. Ia pun terinspirasi dari ibunya bahwa alam mengajarkan banyak kalam Ilahi yang tidak tersurat.
Meyda Sefira menjadi pembicara kedua dan membahas tentang Body. Selain dikenal sebagai pemeran Husna dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Meyda juga merupakan penulis buku Hujan Safir. Tampil cantik menggunakan gaun berwarna hijau keabu-abuan dan hijab ungu, Meyda dengan ramah dan komunikatif memberikan tips-tips menjaga penampilan dan kesehatan tubuh kepada hadirin. "Dengan memakai hijab, kita pun menjadi agen Islam. Orang-orang akan menilai Islam lewat kita. Kita harus menunjukkan bahwa muslimah itu kuat," ucap Meyda. Meyda mengingatkan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Menurutnya, maka muslimah seharusnya tampil rapih dan enak dipandang. "Kalau dibilang riya, riya itu sebenarnya masalah hati. Tidak bisa dinilai dari penampilan," imbuhnya.

Selanjutnya, Brain menjadi topik yang dibahas oleh Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T., dosen Arsitektur ITB. Beliau menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di kampus ITB. Muslimah tidak hanya dinilai dari penampilan dan akhlaknya, tetapi juga wawasannya. Menurut Dr. Allis, fitrah manusialah bahwa kita memiliki akal pikiran sehingga diperintahkan untuk menuntut ilmu. Memperoleh ilmu sesungguhnya bisa dari mana saja. Tentu saja, ilmu yang dicari hendaknya disesuaikan dengan peranan masing-masing di keluarga maupun masyarakat. Dr. Allis punya pandangan tersendiri tentang menuntut ilmu: "Kalau kita menuntut ilmu, jangan menunda-nunda untuk diamalkan. Kemudian, mari kita ajarkan walaupun hanya satu ayat."

Jasmine Talkshow: Mengungkap Rahasia Cantik Luar-Dalam Seorang Muslimah


BANDUNG, itb.ac.id - Keputrian Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1435 H Masjid Salman ITB menggelar Jasmine, sebuah talkshow dengan tajuk "Moslema Beauty Inside & Out". Ada tiga topik perbincangan pada hari itu, yaitu Brain, Body, dan Behavior. Talkshow ini digelar di Aula Timur Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (07/05/14). Lebih dari 300 muslimah hadir meramaikan Aula Timur, tidak hanya mahasiswa ITB, hadir pula mahasiswa dari universitas lain di Bandung Raya, siswa SMA, dan masyarakat umum. Ketiga pembicara yang diundang tampak nyata menyedot perhatian publik, yaitu Meyda Sefira, Mentari Mustaqim, dan Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T. Sebagaimana tujuan acara ini, Jasmine menjadi momen majelis ilmu sehingga muslimah dapat belajar menjadi sosok yang cantik luar-dalam.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Athifah Qotrun Nada (Biologi 2013). Setelah dilafazkannya lantuan ayat suci Al-Qur'an, Okti Dinasakti Nurul Mentari (Teknik Lingkungan 2013) tampil di atas panggung guna memberikan kata sambutan selaku Ketua Pelaksana Jasmine. "Kami mengadakan acara ini seiring dengan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah. Semoga acara ini bisa menjadi momen pembelajaran untuk menjadi muslimah yang cantik luar-dalam," tuturnya.

Talkshow berlangsung dengan dimoderatori oleh Suci Utami Nurwidia (Sains dan Teknologi Farmasi 2010). Pembicara pertama adalah Paramita Mentari Kesuma Putri yang lebih dikenal dengan nama Mentari Mustaqim. Beliau adalah mantan presenter program TV Jejak Petualang, aktivis lingkungan, dan penulis buku "Menyingkap Cahaya Mentari". Topik yang ia bahas adalah Behavior. "Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amalan kalian.'", ujarnya sebagai pengantar. Mentari tumbuh besar di keluarga pecinta alam sehingga di dalam dirinya terbentuk pribadi yang kuat dan menyukai tantangan. Ia pun terinspirasi dari ibunya bahwa alam mengajarkan banyak kalam Ilahi yang tidak tersurat.
Meyda Sefira menjadi pembicara kedua dan membahas tentang Body. Selain dikenal sebagai pemeran Husna dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Meyda juga merupakan penulis buku Hujan Safir. Tampil cantik menggunakan gaun berwarna hijau keabu-abuan dan hijab ungu, Meyda dengan ramah dan komunikatif memberikan tips-tips menjaga penampilan dan kesehatan tubuh kepada hadirin. "Dengan memakai hijab, kita pun menjadi agen Islam. Orang-orang akan menilai Islam lewat kita. Kita harus menunjukkan bahwa muslimah itu kuat," ucap Meyda. Meyda mengingatkan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Menurutnya, maka muslimah seharusnya tampil rapih dan enak dipandang. "Kalau dibilang riya, riya itu sebenarnya masalah hati. Tidak bisa dinilai dari penampilan," imbuhnya.

Selanjutnya, Brain menjadi topik yang dibahas oleh Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T., dosen Arsitektur ITB. Beliau menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di kampus ITB. Muslimah tidak hanya dinilai dari penampilan dan akhlaknya, tetapi juga wawasannya. Menurut Dr. Allis, fitrah manusialah bahwa kita memiliki akal pikiran sehingga diperintahkan untuk menuntut ilmu. Memperoleh ilmu sesungguhnya bisa dari mana saja. Tentu saja, ilmu yang dicari hendaknya disesuaikan dengan peranan masing-masing di keluarga maupun masyarakat. Dr. Allis punya pandangan tersendiri tentang menuntut ilmu: "Kalau kita menuntut ilmu, jangan menunda-nunda untuk diamalkan. Kemudian, mari kita ajarkan walaupun hanya satu ayat."

Total Tayangan Halaman

back to top