Latest Posts
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

 
“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS. Yasin : 78-79).
Adalah Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embrio Organizer atau pengorganisir pertama.
Pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.
Han Spemann Ilmuwan Jerman

Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.
Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana).
Dari sinilah beberapa unsure dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk.
- Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat.
- Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa dan kulit luar.
- Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-orang yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.
Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histology dan pathologi di Sana’a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama.
Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya.
Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energy positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energy negative atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya.
Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu.
“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat.” (HR. al Bukhari, nomor 4935).
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (nomor 2955),
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.”
Dari petunjuk hadist di atas, Ilmuwan muslim pada paruh kedua abad ke-20 telah mendasarkan pemahaman mereka mengenai kemukjizatan hadis tentang tulang ekor ini pada kaidah pengetahuan yang paling dasar, yaitu “Tulang ekor merupakan bagian pertama yang tumbuh dari janin, biasa disebut dengan primitive streak, yaitu bagian utama yang terbentuk pada minggu ketiga”.
“Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)
Wallahu alam bish showab
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...

Kebesaran Allah pada tulang rusuk man..

 
“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS. Yasin : 78-79).
Adalah Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embrio Organizer atau pengorganisir pertama.
Pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.
Han Spemann Ilmuwan Jerman

Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.
Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana).
Dari sinilah beberapa unsure dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk.
- Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat.
- Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa dan kulit luar.
- Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-orang yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.
Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histology dan pathologi di Sana’a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama.
Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya.
Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energy positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energy negative atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya.
Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu.
“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat.” (HR. al Bukhari, nomor 4935).
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (nomor 2955),
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.”
Dari petunjuk hadist di atas, Ilmuwan muslim pada paruh kedua abad ke-20 telah mendasarkan pemahaman mereka mengenai kemukjizatan hadis tentang tulang ekor ini pada kaidah pengetahuan yang paling dasar, yaitu “Tulang ekor merupakan bagian pertama yang tumbuh dari janin, biasa disebut dengan primitive streak, yaitu bagian utama yang terbentuk pada minggu ketiga”.
“Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)
Wallahu alam bish showab
Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...


BANDUNG, itb.ac.id - Keputrian Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1435 H Masjid Salman ITB menggelar Jasmine, sebuah talkshow dengan tajuk "Moslema Beauty Inside & Out". Ada tiga topik perbincangan pada hari itu, yaitu Brain, Body, dan Behavior. Talkshow ini digelar di Aula Timur Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (07/05/14). Lebih dari 300 muslimah hadir meramaikan Aula Timur, tidak hanya mahasiswa ITB, hadir pula mahasiswa dari universitas lain di Bandung Raya, siswa SMA, dan masyarakat umum. Ketiga pembicara yang diundang tampak nyata menyedot perhatian publik, yaitu Meyda Sefira, Mentari Mustaqim, dan Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T. Sebagaimana tujuan acara ini, Jasmine menjadi momen majelis ilmu sehingga muslimah dapat belajar menjadi sosok yang cantik luar-dalam.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Athifah Qotrun Nada (Biologi 2013). Setelah dilafazkannya lantuan ayat suci Al-Qur'an, Okti Dinasakti Nurul Mentari (Teknik Lingkungan 2013) tampil di atas panggung guna memberikan kata sambutan selaku Ketua Pelaksana Jasmine. "Kami mengadakan acara ini seiring dengan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah. Semoga acara ini bisa menjadi momen pembelajaran untuk menjadi muslimah yang cantik luar-dalam," tuturnya.

Talkshow berlangsung dengan dimoderatori oleh Suci Utami Nurwidia (Sains dan Teknologi Farmasi 2010). Pembicara pertama adalah Paramita Mentari Kesuma Putri yang lebih dikenal dengan nama Mentari Mustaqim. Beliau adalah mantan presenter program TV Jejak Petualang, aktivis lingkungan, dan penulis buku "Menyingkap Cahaya Mentari". Topik yang ia bahas adalah Behavior. "Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amalan kalian.'", ujarnya sebagai pengantar. Mentari tumbuh besar di keluarga pecinta alam sehingga di dalam dirinya terbentuk pribadi yang kuat dan menyukai tantangan. Ia pun terinspirasi dari ibunya bahwa alam mengajarkan banyak kalam Ilahi yang tidak tersurat.
Meyda Sefira menjadi pembicara kedua dan membahas tentang Body. Selain dikenal sebagai pemeran Husna dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Meyda juga merupakan penulis buku Hujan Safir. Tampil cantik menggunakan gaun berwarna hijau keabu-abuan dan hijab ungu, Meyda dengan ramah dan komunikatif memberikan tips-tips menjaga penampilan dan kesehatan tubuh kepada hadirin. "Dengan memakai hijab, kita pun menjadi agen Islam. Orang-orang akan menilai Islam lewat kita. Kita harus menunjukkan bahwa muslimah itu kuat," ucap Meyda. Meyda mengingatkan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Menurutnya, maka muslimah seharusnya tampil rapih dan enak dipandang. "Kalau dibilang riya, riya itu sebenarnya masalah hati. Tidak bisa dinilai dari penampilan," imbuhnya.

Selanjutnya, Brain menjadi topik yang dibahas oleh Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T., dosen Arsitektur ITB. Beliau menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di kampus ITB. Muslimah tidak hanya dinilai dari penampilan dan akhlaknya, tetapi juga wawasannya. Menurut Dr. Allis, fitrah manusialah bahwa kita memiliki akal pikiran sehingga diperintahkan untuk menuntut ilmu. Memperoleh ilmu sesungguhnya bisa dari mana saja. Tentu saja, ilmu yang dicari hendaknya disesuaikan dengan peranan masing-masing di keluarga maupun masyarakat. Dr. Allis punya pandangan tersendiri tentang menuntut ilmu: "Kalau kita menuntut ilmu, jangan menunda-nunda untuk diamalkan. Kemudian, mari kita ajarkan walaupun hanya satu ayat."

Jasmine Talkshow: Mengungkap Rahasia Cantik Luar-Dalam Seorang Muslimah


BANDUNG, itb.ac.id - Keputrian Panitia Pelaksana Program Ramadhan (P3R) 1435 H Masjid Salman ITB menggelar Jasmine, sebuah talkshow dengan tajuk "Moslema Beauty Inside & Out". Ada tiga topik perbincangan pada hari itu, yaitu Brain, Body, dan Behavior. Talkshow ini digelar di Aula Timur Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (07/05/14). Lebih dari 300 muslimah hadir meramaikan Aula Timur, tidak hanya mahasiswa ITB, hadir pula mahasiswa dari universitas lain di Bandung Raya, siswa SMA, dan masyarakat umum. Ketiga pembicara yang diundang tampak nyata menyedot perhatian publik, yaitu Meyda Sefira, Mentari Mustaqim, dan Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T. Sebagaimana tujuan acara ini, Jasmine menjadi momen majelis ilmu sehingga muslimah dapat belajar menjadi sosok yang cantik luar-dalam.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Athifah Qotrun Nada (Biologi 2013). Setelah dilafazkannya lantuan ayat suci Al-Qur'an, Okti Dinasakti Nurul Mentari (Teknik Lingkungan 2013) tampil di atas panggung guna memberikan kata sambutan selaku Ketua Pelaksana Jasmine. "Kami mengadakan acara ini seiring dengan Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah. Semoga acara ini bisa menjadi momen pembelajaran untuk menjadi muslimah yang cantik luar-dalam," tuturnya.

Talkshow berlangsung dengan dimoderatori oleh Suci Utami Nurwidia (Sains dan Teknologi Farmasi 2010). Pembicara pertama adalah Paramita Mentari Kesuma Putri yang lebih dikenal dengan nama Mentari Mustaqim. Beliau adalah mantan presenter program TV Jejak Petualang, aktivis lingkungan, dan penulis buku "Menyingkap Cahaya Mentari". Topik yang ia bahas adalah Behavior. "Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amalan kalian.'", ujarnya sebagai pengantar. Mentari tumbuh besar di keluarga pecinta alam sehingga di dalam dirinya terbentuk pribadi yang kuat dan menyukai tantangan. Ia pun terinspirasi dari ibunya bahwa alam mengajarkan banyak kalam Ilahi yang tidak tersurat.
Meyda Sefira menjadi pembicara kedua dan membahas tentang Body. Selain dikenal sebagai pemeran Husna dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Meyda juga merupakan penulis buku Hujan Safir. Tampil cantik menggunakan gaun berwarna hijau keabu-abuan dan hijab ungu, Meyda dengan ramah dan komunikatif memberikan tips-tips menjaga penampilan dan kesehatan tubuh kepada hadirin. "Dengan memakai hijab, kita pun menjadi agen Islam. Orang-orang akan menilai Islam lewat kita. Kita harus menunjukkan bahwa muslimah itu kuat," ucap Meyda. Meyda mengingatkan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Menurutnya, maka muslimah seharusnya tampil rapih dan enak dipandang. "Kalau dibilang riya, riya itu sebenarnya masalah hati. Tidak bisa dinilai dari penampilan," imbuhnya.

Selanjutnya, Brain menjadi topik yang dibahas oleh Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T., dosen Arsitektur ITB. Beliau menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di kampus ITB. Muslimah tidak hanya dinilai dari penampilan dan akhlaknya, tetapi juga wawasannya. Menurut Dr. Allis, fitrah manusialah bahwa kita memiliki akal pikiran sehingga diperintahkan untuk menuntut ilmu. Memperoleh ilmu sesungguhnya bisa dari mana saja. Tentu saja, ilmu yang dicari hendaknya disesuaikan dengan peranan masing-masing di keluarga maupun masyarakat. Dr. Allis punya pandangan tersendiri tentang menuntut ilmu: "Kalau kita menuntut ilmu, jangan menunda-nunda untuk diamalkan. Kemudian, mari kita ajarkan walaupun hanya satu ayat."

Total Tayangan Halaman

back to top